Sore itu, udara terasa sangat pengap bagi Rahasya. Dari kejauhan, matanya tidak sengaja menangkap sosok Rangga di dekat koridor gedung dekanat. Pemandangan itu seolah menghentikan aliran darahnya.
Di sana, Rangga tidak sendirian. Dia sedang berbicara dengan seorang kakak tingkat perempuan. Untuk pertama kalinya, Rahasya melihat sisi Rangga yang selama ini hanya ada dalam mimpinya. Rangga tertawa kecil, tatapannya begitu lembut, hangat, dan penuh ketulusan—sangat kontras dengan tatapan tajam dan dingin yang selalu diberikan padanya.
"Itu siapa ya... siapanya Kak Rangga?" batin Rahasya perih.
Tubuhnya sedikit bergetar. Rasa sesak di dadanya jauh lebih menyakitkan daripada luka di tangannya yang masih dibalut salep dan plester karena terciprat minyak panas saat memasak nasi goreng itu tadi subuh. Tangannya terasa semakin perih dan panas, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang patah.
"Has, liat tuh," suara Avel tiba-tiba terdengar rendah namun penuh emosi. Avel sudah berdiri di sampingnya, matanya menyala melihat pemandangan yang sama, lalu beralih ke meja panitia di mana Hugo dan Damian sedang asik menyantap kotak bekal milik Rahasya.
Tanpa aba-aba, Avel menarik paksa tangan Rahasya yang tidak terluka.
"Eh eh Vel, kamu ngapain sih..." Rahasya tersentak, berusaha menahan langkah sahabatnya.
"Diem, ikut gue."
Avel menarik Rahasya dengan langkah lebar menuju meja panitia, tepat di depan Hugo dan Damian yang sedang mengunyah dengan nikmat. Rangga yang berada tak jauh dari sana mulai menoleh karena kegaduhan kecil itu.
"Hay Kak Hugo... Kak Damian... Gimana nasgor buatan Rahasya?? Pasti enak banget, kan??" ucap Avel dengan volume suara yang sengaja dikeraskan, cukup untuk membuat orang-orang di sekitar—termasuk Rangga—menoleh.
Hugo yang mulutnya masih penuh langsung sumringah. "Owalah, ini buatan si cantik? Pantesan gue suka banget! Enak banget, Has. Sumpah, abang nagih nih kalau tiap hari begini."
Rahasya hanya bisa menunduk, tersenyum canggung yang dipaksakan. "I-iya... makasih Kak Hugo." Damian, yang lebih peka, menyadari sesuatu yang janggal. Matanya tertuju pada tangan Rahasya yang terbungkus plester cukup banyak. "Eh, tapi itu tangan lo kenapa, dek? Kok dibebat gitu?"
"Ha Ha Ha!" Avel tertawa kencang, suaranya kembali meninggi, matanya melirik sinis ke arah Rangga yang kini sudah berdiri mematung memperhatikan mereka. "Biasalah, Kak. Si Rahas ini emang terlalu bersemangat pas bikin bekel tadi subuh, sampe tangannya nyebur ke minyak panas demi nyiapin nasi goreng spesial ini!"
Rahasya menarik ujung baju Avel, memohon untuk berhenti, tapi Avel tidak peduli.
"Makasih ya kakak-kakak ganteng, udah mau menghargai, suka, dan muji buatan Rahasya. Nggak kayak orang itu yang malah buang-buang tenaga orang!" sindir Avel telak.
Hugo dan Damian saling pandang. Mereka langsung sadar bahwa semua drama ini sebenarnya ditujukan untuk Rangga yang wajahnya perlahan berubah menjadi sulit diartikan.
Damian tersenyum miring, lalu menyenggol lengan Avel dengan akrab. "Hahaha, lanjut terus cantik, sampe kuping orangnya panas."