Keesokan harinya, langit Jakarta tampak mendung, seolah ikut merasakan beratnya beban yang dipanggul oleh Arsena.

Sena turun dari mobil Elian dengan langkah yang sangat pelan. Ia mengenakan hoodie kebesaran berwarna gelap, masker hitam yang menutupi hampir seluruh wajah kecilnya, dan topi yang ditarik rendah hingga menutupi matanya. Ia ingin menjadi tidak terlihat. Ia ingin menghilang sebelum ada yang mengenalinya sebagai sosok di surat klarifikasi tempo hari.

Sena mengembuskan napas berat, tangannya yang berada di saku jaket gemetar hebat. Elian menepuk bahunya pelan dari samping, berusaha memberikan kekuatan yang ia sendiri pun ragu bisa tersampaikan.

"Lo yakin, Sen? Kalau masih belum siap sepenuhnya, kita bisa balik lagi minggu depan. Gue bisa urus izinnya dulu ke dosen lo," bisik Elian cemas, matanya memindai sekitar, memastikan tidak ada mahasiswa yang menaruh curiga.

Sena menggeleng pelan namun pasti. "Nggak El, gue yakin. Semakin lama gue di sini, gue makin gila."

Mereka akhirnya berjalan menyusuri koridor kampus. Pikiran Sena berkecamuk, berputar pada angka-angka tagihan rumah sakit Sean, biaya obat, dan bagaimana ia harus mencari kerja tanpa gelar sarjana.

Namun, ia menyadari suasana kampus sangat aneh hari ini.

Langkah kaki ratusan mahasiswa tidak menuju ke kelas. Mereka semua berlari, berdesakan menuju satu titik: Aula Besar.

"Eh, cepetan! Katanya mereka udah di atas panggung!"

"Gila, beneran M:DE manggung dadakan? Bukannya mereka lagi hiatus gara-gara skandal itu?"

Suara riuh itu menghantam pendengaran Sena seperti petir di siang bolong. Langkahnya kaku. Jantungnya berdegup kencang, memberikan rasa nyeri yang sangat familiar di dadanya.

M.DE? Manggung?

Sena berusaha membuang muka, ingin segera sampai ke rektorat. Namun, saat ia melewati pintu samping aula yang terbuka lebar, sebuah suara yang menghantuinya setiap malam menggema melalui sound system raksasa.

Jreng... Suara petikan gitar yang kasar dan bertenaga. Disusul suara berat yang sangat ia kenal.

"Tes... satu."

Sena terkesiap. Suara itu. Suara Ethan.

Elian memandang Sena, ia tahu sahabatnya sedang mengalami dilema hebat di balik maskernya. "Mau liat sebentar aja?" tanya Elian lembut.