Ruangan bernuansa putih gading yang kemarin pekat oleh kabut kecemasan dan rapalan doa yang tak putus, kini terasa jauh lebih hidup. Guratan cahaya matahari pagi menembus celah tirai, membawa kehangatan yang perlahan mengusir bayang-bayang kelam di sudut ruangan. Di sana, Rangga baru saja menutup kotak bekal berisi nasi goreng buatan bundanya yang telah tandas ia makan di kursi samping brankar. Sesekali ia masih mencoba menyodorkan suapan kecil pada Rahasya, meski cowok manis itu menolak dengan kekehan pelan karena perutnya sudah terisi penuh oleh bubur rumah sakit.
Bunda Bunga sedang pamit pulang sebentar untuk mandi dan berganti pakaian, meninggalkan Rangga yang dengan senang hati mengambil alih tugas menjaga dan merawat Rahasya. Bagi Rangga, melakukan semua hal kecil ini—merapikan selimutnya, menyeka keringat di pelipisnya, hingga menceritakan hal-hal acak yang berhasil memancing senyum tipis di wajah pucat Rahasya—sudah lebih dari cukup untuk membuat dadanya membuncah oleh kebahagiaan.
Seperti saat ini, dunia seolah hanya milik mereka berdua. Keduanya tengah berbagi sepasang earphone kabel berwarna putih; sebelah terpasang di telinga kiri Rangga, dan sebelahnya lagi di telinga kanan Rahasya. Posisi mereka begitu dekat. Rangga duduk di tepi ranjang menghadap Rahasya, sementara sang empunya brankar duduk bersandar nyaman dengan bahu yang menempel pada lengan kokoh Rangga.
"Suka gak?" gumam Rangga dengan suara baritonnya yang lembut, tangannya bergerak mengusap surai rambut Rahasya dengan penuh afeksi.
"Suka," jawab Rahasya pelan, matanya menyipit membentuk bulan sabit yang indah. "Ini judulnya apa, Kak? Aku pernah denger nadanya sih, tapi ga hapal judulnya."
"Ini lagunya Sal Priadi, judulnya Kita Usahakan Rumah Itu," jawab Rangga sembari menatap lekat pendar redup namun damai di mata Rahasya. Petikan gitar akustik dan lirik puitis tentang masa depan dari lagu itu mengalun syahdu, begitu pas merengkuh suasana mereka saat ini.
"Ouhh... masuk daftar playlist aku nih nanti," ucap Rahasya antusias. Cowok manis itu kemudian menoleh, menatap Rangga dengan tatapan heran yang menggemaskan. "Tapi kok bisa sih, Kak, selera musik kita sama? Dari tadi lagu-lagu yang Kakak puter aku suka semua dengerinnya."
Rangga tersenyum jahil, mencondongkan wajahnya sedikit. "Itu namanya jodoh."
Mendengar celetukan itu, mata bulat Rahasya langsung membelalak kaget. Rona merah tipis seketika menjalar di kedua belah pipinya yang masih agak pucat. Ia memalingkan wajah dengan salah tingkah, memukul pelan bahu Rangga. "Ihh, apasih! Kamu tuh alay deh, Kak!"
Rangga tak bisa menahan tawanya melihat reaksi menggemaskan itu. "Loh, emang ga mau jodoh sama aku?" godanya lagi, kali ini nadanya lebih melembut.
Rahasya menghentikan tawanya. Ia menatap langit-langit kamar, berpura-pura berpikir sejenak dengan jari telunjuk di dagu, sebelum akhirnya menatap Rangga dengan senyum tersipu. "Hmmm... mau sih. Tapi kan masih lama! Kita masih anak SMA loh, Kak! Lulus aja belum."
Tawa keduanya langsung pecah memenuhi ruangan, menciptakan melodi kebahagiaan yang mengudara bebas. Namun, sebelum euforia itu berlanjut lebih panjang, decitan suara knop pintu yang ditarik terbuka menginterupsi mereka.
Sontak, Rangga dan Rahasya yang sedang dalam jarak sangat dekat langsung terperanjak dan sedikit menjauh satu sama lain.
Di ambang pintu, berdirilah Hugo dengan cengiran khasnya yang tanpa dosa, menenteng sebuah bingkisan parsel buah. Di belakangnya, ada Damian yang raut wajahnya terlihat sedikit menahan kesal, dan... ada Avel. Cowok jutex itu tampak mati-matian bersembunyi di balik punggung lebar Damian, menahan kedua ujung jaket Damian agar tidak diseret maju.
"Waduh, ganggu nih kita kayaknya," sapa Hugo dengan nada meledek, melenggang masuk menghampiri nakas dan menaruh buah-buahan bawaannya di sana.
Rangga memberikan tatapan tajam yang pura-pura mengancam ke arah Hugo, yang hanya dibalas dengan kedipan mata jenaka.
"Udah enakan, Has?" tanya Hugo, kali ini nadanya lebih lembut, menatap Rahasya yang masih terkejut di atas ranjang.
Atensi Rahasya yang sejak tadi terpaku pada sosok Avel di belakang Damian langsung teralihkan. "O-oh, iya, Go. Aku udah sehat kok, badannya tinggal lemes aja. Makasih ya udah jengukin," jawab Rahasya dengan senyum canggung.