Rangga sampai di alamat yang di berikan Avel, dengan nafas yang terputus-putus.

Ia melangkah dengan kaki yang terasa seberat timah melewati lorong-lorong sunyi berdinding marmer putih. Suasana di sini begitu dingin, tenang, dan mencekam—sangat kontras dengan gemuruh penyesalan di dadanya.

Ia berhenti di depan sebuah kotak kaca kecil dengan nomor urut yang diberikan Avel. Di balik kaca itu, terdapat sebuah guci keramik cantik, dan di sampingnya... sebuah foto.

Foto Rahasya.

Ia tersenyum sangat manis mengenakan toga wisudanya. Binar matanya yang tulus, yang dulu selalu Rangga hindari, kini menatapnya balik dengan abadi. Di bawah foto itu, terukir sebuah nama dan tanggal yang membuat dunianya runtuh:

RAHASYA SENANDIKA

Lahir: 7 january 2003

Wafat: 7 Desember 2029

"Nggak... nggak mungkin," bisik Rangga parau. Suaranya hilang, tertelan isak tangis yang menyesakkan dada.

Rangga menyentuh permukaan kaca yang dingin itu, tepat di bagian wajah Rahasya dalam foto. Air matanya menetes, membasahi marmer di bawah kakinya.