BEBERAPA BULAN KEMUDIAN…
(HARI WISUDA RAHASYA)
Sinar matahari sore yang hangat tidak mampu menghangatkan hati Rahasya. Mengenakan kemeja rapi pasca wisuda pagi tadi, ia berjalan kecil sambil membawa buket bunga di satu tangan dan tote bag berisi bekal di tangan lainnya. Ia sempat bersenandung kecil, memantapkan hatinya untuk terakhir kali sebelum benar-benar mencoba melepaskan Rangga.
Langkahnya terhenti di depan sebuah gedung perkantoran tinggi. Rahasya tahu Rangga bekerja di sini karena sempat tidak sengaja melihatnya beberapa hari lalu. Ia tidak berniat bertemu, ia hanya ingin menjadi anonim.
"Permisi, Pak," ucap Rahasya kepada satpam yang berjaga.
"Iya, Dek? Ada yang bisa dibantu?" tanya Pak Satpam ramah.
"Ini saya ada titipan buat pekerja di sini, namanya..." Rahasya menarik napas panjang*. "Rangga Mahesa."*
"Oh, Mas Rangga? Dengan siapa ini? Biar saya sampaikan ke orangnya nanti," ucap Pak Satpam tersenyum.
"Nggak perlu disampaikan, Pak. Bilang aja ini dari orang terdekat—"
SRET!
Kalimat Rahasya terputus saat sebuah tangan besar mencengkeram lengannya dengan kasar, menariknya menjauh dari pos satpam menuju sudut gedung yang lebih sepi.
"Eh—eh, lepas!"
Rahasya terbelalak. Di hadapannya, Rangga berdiri dengan wajah yang merah padam karena emosi. Napasnya memburu.
"Lo sumpah ya, Has! Stop bisa nggak sih?!" bentak Rangga. "Lo sakit, tau nggak? Lo nguntit gue sampai ke kantor?!"
"Kak... aku nggak—"